Menguak Misteri Candi Mendut

Menguak Misteri Candi Mendut | Rating: 4.8 from 9 user Reviews | Reviewed by Tim Wisata Yogya | | Rating: 4.8

Wisata YogyakartaCandi Mendut. Kali ini kita akan berpetualang sedikit ke luar Yogyakarta, terletak di Kota Mungkid, kabupaten Magelang, Jawa Tengah berdiri sebuah candi yang bernama Candi Mendut. Candi mendut ini tidaklah berjauhan dari candi Borobudur, karena hanya sekitar 3 km saja jaraknya dengan candi Borobudur. Oleh karena itu banyak yang menghubung-hubungkan candi Mendur dengan candi Borobudur.

Candi Mendut biasanya bagi anda yang mengunjungi candi Borobudur, kemungkinan besar anda pun juga melihat candi Mendut karena terletak di seberang jalan menuju kompleks candi Borobudur, tentu saja jika anda melalui jalan sebelah timur (jalan Magelang). Apa hubungan candi Mendut dengan candi Borobudur? Bagaimana sisi historisnya? Mari kita telusuri bersama cerita candi Mendut.

candi mendut

Candi Mendut

Menurut sebuah literatur, candi mendut dibangun pada abad ke 9, tepatnya tahun 824 masehi, angka tahun tersebut terdapat dalam prasasri KarangTengah. Dibangun pada masa Raja Indra dari dinasti Syailendra. Salah satu kesamaan candi mendut dengan candi Borobudur adalah pada sisi sama-sama candi budha.

Sebenarnya Candi Mendut ditemukan pertama kali pada tahun 1836, pada tahun 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki tapi belum sempurna, dan kembali diperbaiki oleh Theodoor Van Erp pada tahun 1908. Dan puncaknya pada tahun 1925 sejumlah stupa candi mendut dapat disusun kembali.

Relief Candi Mendut

Memang, kita tidak tahu secara 100% apa yang mencoba diceritakan oleh sang pembuat candi Mendut, kita hanya mencoba menebak cerita yang lukiskan relief candi Mendut melalui sang ahli dan melalui sang ahli tersebut akhirnya gambar-gambar relief candi mendut tersebut dapat berkata-kata. Dan tentu saja pembacaan relief candi Mendut ini bisa saja terdapat kesalahan dan anda sendiri pun boleh mengartika relief candi mendut ini dengan versi anda sendiri. Tapi disini akan kami sajikan cerita dalam relief candi mendut menurut literatur yang ada.

Relief pertama candi mendut adalah menggambarkan cerita fabel atau cerita hewan-hewan yang biasa dikenal dengan jataka, berikut kutipan cerita lengkapnya :

Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.

Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.

Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”

Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.

Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, <laksanakanlah> dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan si ular.

Relief kedua candi mendut juga menggambarkan fabel yang menceritakan cerita hewan juga, berikut ceritanya :

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.

Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.

Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.

Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:

“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:

“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.

Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.

Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.

Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.

Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.

Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Dan pada relief ketiga candi mendut adalah cerita mengenai dua orang sahabat anak saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan kemudian bercerita kepada sahabatnya yang bernama Dustabuddhi. Lalu mereka berdua sepakat untuk menyembunyikan uang tersebut di bawah pohon. Dharmabuddhi mengambil uang dan membagi secara adli setiap kali mereka membutuhkan uang. Alan tetapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Kemudian ia menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

Relief keempat candi mendut adalah cerita fabel burung betet yang bersaudara tetapi berbeda kelakuan karena yang satu dididik seorang perampok dan satunya dididik seorang pendeta.

Nah, sampai disini kita menelusur cerita di Candi Mendut, Semoga bermanfaat.


Join penulis di Google+, Join Sofyan di Google+

Kata Kunci :

misteri candi mendut, misteri magelang, mistik candi borobudur, misteri kota magelang, relevansi cerita binatang di candi sojiwan dan mendut, relevansi cerita binatang dalam candi sojiwan dan mendut, relevansi cerita binatang dalam candi sojiwan dan candi mendut, Misteri di hotel wisata magelang, misteri candi prambanan, apakah rahasia jandi mendut itu, misteri berdirinya candi mendut, kode rahasia candi borobudur, Kisah Misteri Candi Mendut, cerita seram di daerah magelang, cerita misteri islam, cerita misteri di kota magelang, candi mendut yogyakarta kota, borobudur dan islam, sejarah borobudur versi islam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top